Ragam

Komisi XIII DPR RI Laksanakan Kunjungan Kerja Spesifik ke Lapas Banceuy Bandung

Published

on

Khatulistiwaupdatenews.com, Bandung – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Banceuy menerima kunjungan kerja spesifik dari Komisi XIII DPR RI, Rabu 11 Maret 2026.

Kunjungan kerja oleh Komisi XIII DPR RI, dipimpin oleh Ketua Tim Andrea Hugo Pariera (wakil ketua komisi XIII), dan Rieke Dyah Pitaloka, yang didampingi langsung Kakanwil Ditjen Pemasyarakatan Provinsi Jabar Kusnali.

Kepala Lapas (Kalapas) Kelas IIA Banceuy Eris Ramdani, menjelaskan bahwa kegiatan kunjungan kerja ini, untuk melihat secara langsung program di Lapas Banceuy.

“Kehadiran anggota DPR RI dari Komisi XIII ini diawali dengan peninjauan langsung ke beberapa sarana dan program pembinaan yang ada di dalam lembaga pemasyarakatan (lapas) Banceuy,” jelas Kalapas Banceuy Eris Ramdani, usai kegiatan, Rabu 11 Maret 2026.

Eris menambahkan, Anggota DPR RI Komisi XIII meninjau Klinik Pratama Lapas Kelas IIA Banceuy, dan mengecek secara langsung fasilitas pelayanan kesehatan yang diperuntukkan bagi warga binaan pemasyarakatan.

“Selain ke klinik, anggota DPR juga mengunjungi area pengelolaan maggot (larva lalat Black Soldier Fly/BSF) yang menjadi salah satu program pembinaan kemandirian bagi warga binaan. Kunjungan ke Area Giatja (Kegiatan Kerja) meninjau pelaksanaan kegiatan kerja warga binaan yang bertujuan untuk memberikan keterampilan dan meningkatkan kemandirian sebagai bekal setelah kembali ke masyarakat,” terangnya.

Terpisah Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI Dr. Andreas Hugo Pareira, menjelaskan maksud dan tujuan kunjungan kerja spesifik ini, untuk membawa Pemasyarakatan lebih baik lagi.

Komisi XIII DPR RI memastikan seluruh temuan lapangan dan masukan dari daerah akan menjadi dasar penyusunan rekomendasi Panja Pemasyarakatan.

“Targetnya bukan sekadar perbaikan teknis, tetapi reformasi sistem pemasyarakatan agar lebih humanis, berkeadilan, dan berorientasi pada pemulihan sosial, bukan sekadar pengurungan. Pembenahan Lapas bukan hanya soal keamanan, tapi soal masa depan manusia—warga binaan, keluarganya, dan masyarakat,” pungkas Andreas.***